Masjid Saint Petersburg, Jejak Diplomasi Soekarno di Masjid Biru Rusia

priyadi abadi di masjid saints petersburg rusia

PRIYADI | Angin dingin dari Sungai Neva berembus pelan menyapu jalanan Kronverksky Prospekt. Di kejauhan, kubah biru kehijauan nampak anggun di bawah awan yang sedang mendung, kubah ini berdiri kontras di antara bangunan klasik khas Rusia yang didominasi warna abu-abu batu. Di kota yang identik dengan gereja Ortodoks, istana megah, dan sejarah kekaisaran itu, berdiri sebuah penanda peradaban lain, yaitu Masjid Saint Petersburg.

Bagi banyak pelancong Muslim, masjid ini bukan sekadar tempat singgah untuk shalat. Ia saksi sejarah panjang diaspora Muslim di Rusia, sekaligus bukti bahwa Islam telah lama menjadi bagian dari denyut kota ini. Tak heran jika Masjid Saint Petersburg kerap menjadi salah satu titik destinasi favorit dalam paket perjalanan wisata Muslim mancanegara yang dibawa oleh Adinda Azzahra Tour & Travel bersama Direktur Utamanya, Priyadi Abadi.

Menariknya lagi, ternyata Masjid Saint Petersburg ini ada kaitannya dengan salah satu tokoh kebangsaan di Indonesia, yaitu Presiden RI pertama, Soekarno. Untuk mengetahui lebih lanjut kita coba kupas perjalanan Sejarah masjid ini.  

Mimpi Panjang Komunitas Muslim

Kisah masjid ini dimulai jauh sebelum kubah birunya berdiri megah. Pada 1798, sekelompok personel militer Muslim yang bertugas di Saint Petersburg mengajukan permintaan sederhana, yaitu rumah ibadah dan pemakaman khusus Muslim. Permintaan itu terdengar wajar, tetapi realisasinya tidak mudah.

Upaya demi upaya dilakukan. Pada 1803–1804, arsitek Andrey Voronikhin dan Luigi Rusca sempat menyusun rencana pembangunan, namun kandas di tengah jalan. Tahun 1862, penggalangan dana kembali dicoba, tetapi ditolak. Saat sensus 1869 mencatat sekitar 1.700 Muslim yang kebanyakan etnis Tatar, jumlah itu masih dianggap terlalu kecil untuk membangun masjid besar.

Namun waktu berjalan. Populasi Muslim terus bertambah. Memasuki awal abad ke-20, jumlahnya melonjak hingga lebih dari 8.000 orang. Kebutuhan akan masjid pun tak lagi bisa diabaikan.

Tahun 1882, Mufti Orenburg, Selim-Giray Tevkelev, akhirnya memperoleh izin dari Menteri Tolstoy untuk membangun masjid. Langkah ini menjadi pintu pembuka. Pada 1906, dibentuk komite resmi yang dipimpin Ahun Ataulla Bayazitov dengan target ambisius yaitu mengumpulkan 750.000 rubel dalam sepuluh tahun.

Gotong Royong Lintas Negeri

Yang menarik, pembangunan masjid ini bukan hanya urusan lokal. Dana datang dari berbagai wilayah Rusia, bahkan dari luar negeri. Dalam tahun pertama saja, komite berhasil mengumpulkan lebih dari 103.000 rubel.

Donatur terbesar adalah Emir Bukhara, Abdul Ahad Khan, yang dengan dermawan menanggung hampir seluruh biaya konstruksi. Peranannya begitu vital sehingga namanya kerap disebut sebagai “bapak pelindung” masjid ini.

Pada 3 Juli 1907, Kaisar Nicholas II memberikan izin pembelian tanah di Kronverksky Prospekt, tepat berseberangan dengan Benteng Peter and Paul, pusat sejarah Saint Petersburg. Lokasi yang sangat strategis dan simbolis.

Kompetisi desain digelar pada 1908 dan dimenangkan oleh arsitek Nikolai Vasilyev, didampingi insinyur Stepan Krichinsky dan pengawas Alexander von Hohen. Pondasi mulai digali pada 1909. Hingga Mei tahun itu, dana yang terkumpul telah mencapai lebih dari 326.000 rubel.

Upacara peletakan batu pertama digelar pada Februari 1910. Acara itu dihadiri Emir Bukhara, duta Turki dan Persia, serta pejabat Rusia. Batu pertama dilapisi perak dengan tulisan syukur, sebuah simbol harapan bagi masa depan Islam di kota ini.

Masjid sempat dibuka sebagian pada 1913 bertepatan dengan perayaan 300 tahun Dinasti Romanov. Namun Perang Dunia I memperlambat penyelesaian. Bahkan pada 1915, masjid dijadikan objek wisata berbayar demi menambah dana pembangunan. Barulah pada 1921, bangunan ini benar-benar rampung.

Arsitektur Khas Timur Tengah Melebur di Rusia

Masjid Saint Petersburg langsung mencuri perhatian siapa pun yang melihatnya. Desainnya terinspirasi makam Gur-e-Amir di Samarkand, Uzbekistan sebuah makam megah Tamerlane.

Bangunan utama berdiri kokoh dengan granit abu-abu lokal, seolah menyatu dengan lanskap dingin kota. Di atasnya menjulang kubah setinggi 39 meter dan dua menara minaret setinggi 49 meter, dilapisi mosaik biru turquoise berkilau. Warna biru itu bukan sekadar estetika, melainkan simbol langit, perlambang keagungan Tuhan dalam tradisi Islam.

Portal masuk dihiasi pilar marmer, menghadap langsung jalan utama. Setiap sudutnya memadukan unsur Persia, Timur Dekat, hingga India. Mozaik kaca karya Peter Vaulin dirancang tahan terhadap cuaca ekstrem Rusia.

Masuk ke dalam, suasana berubah dramatis. Lantai dipenuhi karpet Persia buatan tangan dari Asia Tengah. Dinding dan kolom dilapisi marmer hijau dari Italia dan Jerman. Mihrab biru safir dihiasi kaligrafi emas. Lampu kristal besar menggantung anggun di langit-langit tinggi berpola geometris.

Ruangannya luas, mampu menampung sekitar 5.000 jamaah. Lantai atas dikhususkan bagi perempuan.

Dijuluki Masjid Biru Soekarno

Tahun 1940-an, masjid Saint Petersburg pernah ditutup oleh pemerintah Uni Sovyet karena dijadikan gudang medis. Ketika Presiden Soekarno melakukan lawatan kenegaraan ke Leningrad (sekarang Saint Petersburg) tahun 1956, ia meminta kepada pimpinan Uni Sovyet Nikita Khrushchev untuk dikembalikan fungsi bangunan kepada komunitas Muslim, yang kemudian disetujui karena hubungan diplomatik Indonesia–Uni Soviet saat itu.

Keputusan Khrushchev memicu pembukaan kembali pada Juni 1957, diikuti renovasi besar-besaran pada 1960–1980-an untuk memperbaiki kerusakan Perang Dunia II. Sejak itu, masjid ini sering disebut “Masjid Soekarno” di Indonesia sebagai penghargaan atas jasanya menyelamatkan situs bersejarah ini dari kehancuran total.

Kini, masjid ini menjadi jantung spiritual komunitas Muslim Saint Petersburg, khususnya etnis Tatar dan migran Asia Tengah.

Setiap Jumat, ribuan jamaah memadati ruangan. Khutbah disampaikan dalam bahasa Rusia dan Tatar. Selain shalat lima waktu, ada madrasah akhir pekan, kelas hafalan Al-Qur’an, kajian fikih, hingga pengajian perempuan.

Saat Ramadan, masjid berubah menjadi pusat kebersamaan. Iftar massal digelar, makanan dibagikan untuk para migran miskin, dan perayaan Idulfitri terasa meriah.

Tak hanya itu, masjid juga membuka tur edukatif bagi wisatawan Muslim. Di sinilah nilai halal tourism berkembang, perpaduan antara ibadah, sejarah, dan budaya.

Persinggahan Hangat Wisata Muslim Dunia

Bagi rombongan wisata Muslim dari Indonesia, Masjid Saint Petersburg sering menjadi momen paling mengharukan dalam perjalanan. Salah satunya yang kerap diselenggarakan travel Adinda Azzahra Tour & Travel, biro perjalanan yang fokus pada wisata Muslim mancanegara. Di bawah kepemimpinan Priyadi Abadi, perusahaan ini merancang perjalanan yang bukan hanya sightseeing, tetapi juga spiritual journey.

Tak jarang, Adinda Azzahra juga bekerja sama dengan pengurus masjid untuk tur singkat, mengenalkan sejarah Islam di Rusia, sekaligus memastikan fasilitas halal, mulai dari restoran hingga tempat wudu tersedia bagi jamaah.

“Alhamdulillah kami kerap singgah di Masjid Soekarno ini, ketika ada trip ke wilayah Rusia, masjid ini menjadi pengingat akan Soekarno yang dulu pernah menghidupkan kembali masjid yang lama tak berfungsi melalui lobi kenegaraan,” ungkap Priyadi.

Masjid Saint Petersburg adalah cerita tentang kesabaran dua abad, tentang komunitas kecil yang tak lelah bermimpi, tentang arsitektur yang menyeberangi benua, dan tentang iman yang bertahan di tengah perubahan zaman.

Di kota yang dinginnya bisa menusuk tulang, masjid ini justru memancarkan kehangatan. Bagi siapa pun yang melangkah ke pelatarannya, baik warga lokal maupun pelancong dari Indonesia, kubah biru itu seolah berbisik pelan, Islam selalu punya tempat, di mana pun berada.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *