PA | Menjelajahi Moskwa tidak hanya tentang mengagumi kemegahan Kremlin, menyusuri Lapangan Merah, atau menikmati arsitektur gereja Ortodoks yang menjadi ikon Rusia. Bagi wisatawan Muslim, ibu kota Rusia ini juga menyimpan destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda: Masjid Agung Moskwa, sebuah bangunan megah berkubah emas yang menjadi pintu masuk untuk mengenal perjalanan panjang Islam di negeri beruang merah tersebut.
Berdiri di Vypolzov Lane, tidak jauh dari stasiun metro Prospekt Mira, Masjid Agung Moskwa atau Masjid Katedral Moskwa (Moskovskaya Sobornaya Mechet) menghadirkan perpaduan antara wisata religi, kekayaan arsitektur, dan kisah sejarah yang menarik. Kubah emasnya menjulang di antara bangunan perkotaan, sementara menara-menara tinggi, ornamen geometris, dan kaligrafi Arab memperlihatkan identitas Islam di tengah lanskap kota yang lekat dengan tradisi Ortodoks Rusia.
Bagi pelancong Muslim, termasuk rombongan Adinda Azzahra Tour & Travel yang dinahkodai Priyadi Abadi, kunjungan ke masjid ini bukan sekadar kesempatan mengagumi bangunan bersejarah atau menunaikan ibadah di tengah perjalanan. Masjid ini juga menawarkan ruang untuk memahami bagaimana komunitas Muslim mempertahankan identitas dan kehidupan keagamaannya melewati berbagai perubahan zaman, termasuk ketika Rusia berada di bawah kekuasaan Uni Soviet.
Di balik kemegahan bangunan yang diresmikan pada 23 September 2015 itu, tersimpan sejarah panjang yang bermula dari sebuah masjid sederhana milik komunitas Tatar pada 1904. Bangunan lama tersebut pernah menjadi satu-satunya masjid di Moskwa yang tetap beroperasi sepanjang era Soviet sebelum akhirnya dibongkar pada 11 September 2011 dan digantikan oleh kompleks baru yang jauh lebih besar.
Kini, dengan luas sekitar 19.000 meter persegi dan kapasitas hingga 10.000 jamaah, Masjid Agung Moskwa menjadi salah satu pusat kehidupan Islam terpenting di ibu kota Rusia sekaligus destinasi yang menarik bagi wisatawan Muslim maupun pencinta sejarah dan arsitektur.
“Mengenal masjid ini berarti menyelami sisi lain Moskwa, sebuah perjalanan yang mempertemukan pengalaman wisata, kekayaan sejarah, dan jejak panjang peradaban Islam di Rusia,” ungkap Priyadi.
Berawal dari Perjuangan Komunitas Muslim Tatar
Keberadaan Islam di Rusia memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perdagangan, migrasi, dan perkembangan masyarakat di berbagai wilayah. Di Moskwa, komunitas Muslim tumbuh dengan latar belakang beragam, termasuk masyarakat Tatar yang berperan penting dalam pembangunan Masjid Katedral Moskwa.
Pada akhir abad ke-19, kebutuhan akan masjid yang lebih representatif semakin dirasakan oleh umat Islam di ibu kota Rusia. Tempat ibadah diperlukan bukan hanya untuk melaksanakan shalat, tetapi juga untuk mempertahankan tradisi dan mempererat hubungan sosial antarsesama Muslim.
Pada 1902, sejumlah pedagang Tatar membeli tanah di Vypolzov Lane untuk pembangunan masjid. Proyek tersebut memperoleh dukungan finansial dari masyarakat, terutama kalangan pedagang dan dermawan Muslim. Salah satu tokoh yang berperan penting adalah Salih Erzin, yang membantu membiayai pembangunan tempat ibadah tersebut.
Rancangan masjid dipercayakan kepada Nikolay Zhukov, atau Nikolai Alekseyevich Zhukov, seorang arsitek Rusia. Rancangannya disetujui pada Juni 1904, kemudian diwujudkan menjadi bangunan dua lantai dengan sebuah menara setinggi sekitar 20 meter. Ruang shalatnya dirancang untuk menampung sekitar 800 orang, meskipun jumlah jamaah dapat melampaui 1.000 orang ketika hari raya keagamaan tiba.

Bertahan pada Masa Uni Soviet
Perjalanan masjid memasuki babak yang lebih menantang ketika Rusia berada di bawah kekuasaan Soviet. Periode tersebut ditandai oleh berbagai kebijakan yang membatasi kehidupan beragama. Sejumlah tempat ibadah mengalami penutupan, perubahan fungsi, atau pembatasan kegiatan.
Dalam situasi itu, Masjid Katedral Moskwa menjadi tempat yang istimewa karena dikenal sebagai satu-satunya masjid di Kota Moskwa yang tetap beroperasi sepanjang era Soviet. Keberlangsungannya menjadikannya pusat penting bagi umat Islam yang tinggal di ibu kota dan wilayah sekitarnya.
Masjid tersebut juga memiliki kaitan dengan Perang Dunia II. Menurut catatan sejarah komunitasnya, umat Islam yang beribadah di sana turut berkontribusi terhadap upaya perang, termasuk melalui penggalangan dana untuk pembentukan kolom tank.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari sejarah hubungan umat Islam dengan masyarakat Soviet pada masa perang. Di tengah situasi yang sulit, komunitas Muslim berusaha memberikan kontribusi kepada masyarakat luas sekaligus mempertahankan kehidupan spiritual mereka.
Dengan sejarah tersebut, masjid lama menjadi saksi perjalanan umat Islam melewati perubahan besar, dari masa Kekaisaran Rusia, era Soviet, hingga periode Rusia modern.
Kontroversi Pembongkaran Masjid Bersejarah
Memasuki awal abad ke-21, kebutuhan akan masjid yang lebih besar semakin terasa. Moskwa berkembang menjadi kota metropolitan, sementara komunitas Muslimnya juga semakin beragam.
Pada 2005, Administrasi Spiritual Muslim Federasi Rusia memprakarsai proyek rekonstruksi besar. Tujuannya adalah menyediakan kompleks ibadah yang lebih luas dan mampu mengakomodasi kebutuhan umat Islam di ibu kota.
Namun, rencana tersebut memunculkan perdebatan. Pada awalnya, terdapat pernyataan bahwa bangunan lama tidak akan dibongkar. Bahkan pada Juni 2008, bangunan itu sempat memperoleh pengakuan sebagai objek warisan budaya. Akan tetapi, status perlindungannya dicabut pada akhir tahun yang sama.
Pada 11 September 2011, masjid lama akhirnya dibongkar. Keputusan tersebut memicu protes dari sejumlah pelestari kota, organisasi masyarakat, dan tokoh Muslim yang menilai bangunan itu memiliki nilai sejarah yang tidak mudah digantikan.
Pembangunan kompleks baru menghasilkan masjid berskala jauh lebih besar, dengan rancangan arsitektur yang memadukan unsur Moskwa dan Kazan melalui pendekatan neo-Bizantium.
Dalam proyek ini, Ilyas Tazhiyev disebut sebagai perancang awal. Sementara itu, sejumlah sumber mengaitkan pelaksanaan rekonstruksi periode 2011–2015 dengan arsitek Ilya Tikhonov dan Alexey Kolentev. Dengan demikian, pembangunan masjid baru melibatkan proses perancangan dan pelaksanaan yang tidak hanya bertumpu pada satu nama arsitek.
Masjid tersebut diresmikan pada 23 September 2015, menjelang perayaan Idul Adha. Peresmian dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, pemimpin Palestina Mahmoud Abbas, serta Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev.
Masjid baru terdiri atas enam lantai dengan luas sekitar 18.900–19.000 meter persegi, hampir dua puluh kali luas bangunan sebelumnya. Kompleks ini mampu menampung hingga 10.000 jamaah sekaligus.
Salah satu ciri paling menonjol adalah kubah utama berwarna emas dengan ketinggian sekitar 46 meter dan diameter 27 meter. Kubah tersebut dikelilingi kubah-kubah kecil berwarna biru kehijauan, sedangkan menara-menara tinggi dengan puncak bulan sabit memperkuat karakter Islam pada bangunan.
Fasad batu putih dan siluet berkubahnya kerap mengingatkan pengamat pada kemegahan arsitektur keagamaan Ortodoks Rusia. Namun, masjid ini tetap mempertahankan identitas Islam melalui ornamen, kaligrafi, dan tata ruangnya.
Perpaduan tersebut menjadikan Masjid Katedral Moskwa bagian menarik dari keragaman arsitektur kota. Di tengah bangunan bersejarah dan gereja berkubah khas Rusia, masjid ini hadir dengan karakter tersendiri tanpa terlepas dari lingkungan budaya tempatnya berdiri.
Donasi Lintas Negara di Balik Pembangunan
Pembangunan Masjid Katedral Moskwa baru membutuhkan biaya besar. Sejumlah laporan menyebut total biaya proyek mencapai sekitar US$170 juta. Pendanaan utamanya berasal dari donasi swasta, termasuk sumbangan pengusaha, masyarakat Muslim, serta dukungan dari sejumlah negara.
Salah satu penyumbang terbesar adalah Suleiman Kerimov, pengusaha Rusia kelahiran Dagestan. Sejumlah laporan menyebut kontribusinya sekitar US$100 juta, sedangkan laporan lain mengaitkan sumbangannya dengan angka yang lebih tinggi, bahkan mendekati US$170 juta. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa rincian pendanaan yang dipublikasikan tidak sepenuhnya seragam.
Pemerintah Turki juga memberikan dukungan signifikan. Kontribusinya dilaporkan mencapai sekitar US$12 juta, termasuk bantuan untuk pekerja konstruksi dan penyelesaian proyek. Turki turut menyumbangkan pintu upacara, lampu gantung, dan karpet salat.
Pemerintah Kazakhstan memberikan kontribusi meskipun nominalnya tidak dirinci secara terbuka dalam sejumlah laporan. Sementara itu, Mahmoud Abbas, Presiden Palestina saat itu, dilaporkan menyumbangkan US$25.000 atas nama anak-anak Palestina.
Pengusaha Rusia Mikhail Gutseriev juga disebut memberikan sumbangan sekitar US$5 juta. Ramzan Kadyrov, pemimpin Chechnya, turut disebut sebagai salah satu penyumbang, meskipun nominal kontribusinya tidak dipublikasikan secara luas.
Selain para penyumbang besar tersebut, proyek ini memperoleh dukungan dari puluhan ribu umat Islam di Rusia dan luar negeri. Ketua Dewan Mufti Rusia, Ravil Gainutdin, menyatakan bahwa pembangunan masjid dibiayai sepenuhnya melalui donasi swasta, bukan dana negara Rusia.
Menjelajahi Masjid Katedral Moskwa
Bagi wisatawan Muslim yang berkunjung ke Moskwa, Masjid Katedral Moskwa dapat menjadi tujuan untuk mengenal sejarah Islam di Rusia. Lokasinya di Vypolzov Lane, tidak jauh dari stasiun metro Prospekt Mira, membuatnya relatif mudah dijangkau menggunakan transportasi umum.
Pengunjung dapat menikmati perpaduan arsitektur Islam dan karakter kota Rusia melalui kubah emas, menara tinggi, fasad batu putih, serta detail interiornya. Namun, pengalaman berkunjung akan lebih bermakna jika wisatawan juga memahami sejarah panjang yang menyertai bangunan tersebut.
Wisatawan sebaiknya mengenakan pakaian sopan sebagai bentuk penghormatan terhadap fungsi bangunan sebagai tempat ibadah. Perempuan umumnya diharapkan menutup kepala, sedangkan alas kaki perlu dilepas sebelum memasuki ruang salat. Pengunjung juga sebaiknya memastikan aturan kunjungan yang berlaku saat datang karena akses ke area tertentu dapat menyesuaikan kegiatan ibadah dan kebijakan pengelola.
Bagi pelancong Muslim, masjid ini menyediakan ruang untuk beribadah sekaligus mengenal kehidupan umat Islam setempat. Sementara bagi wisatawan yang tertarik pada sejarah dan arsitektur, kunjungan ke masjid dapat menjadi kesempatan memahami perubahan kota dan hubungan antara tradisi dengan modernitas.
Kubah emasnya mungkin menjadi hal pertama yang menarik perhatian pengunjung. Namun, di balik kemegahan itu, tersimpan cerita yang jauh lebih dalam: perjalanan panjang umat Islam untuk mempertahankan ruang ibadah dan identitas mereka di jantung Rusia.[]
