PA | Masjid Ayasofya, Pergumulan Peradaban di Langit Istanbul Turki. Ada bangunan yang sekadar berdiri. Ada pula bangunan yang hidup, berdenyut, dan merekam pergantian zaman seperti lembaran kitab tebal. Masjid Ayasofya di Istanbul termasuk jenis yang kedua. Ia bukan hanya struktur batu dan kubah raksasa, melainkan saksi bisu lebih dari 1.500 tahun sejarah, tentang kekuasaan, keyakinan, arsitektur, dan manusia yang terus berganti, sementara bangunannya tetap bertahan.
Bagi banyak pelancong muslim Indonesia, Ayasofya bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ziarah peradaban. Tak heran jika agen travel muslim Adinda Azzahra Tour & Travel hampir selalu memasukkan Ayasofya dalam setiap paket Turki. Bersama pemandu berpengalaman Priyadi Abadi, rombongan diajak memahami bukan hanya apa yang terlihat, tetapi juga cerita panjang yang berlapis di balik bangunan klasik ini.
Dari Gereja Bizantium ke Mahakarya Dunia
Kisah Ayasofya bermula jauh sebelum Istanbul dikenal dengan namanya sekarang. Pada 360 M, Kaisar Konstantius II mendirikan gereja Kristen Ortodoks pertama di lokasi ini. Namun bangunan awal itu tak bertahan lama karena kerusuhan dan kebakaran meruntuhkannya.
Versi yang kita kenal hari ini lahir pada masa Kaisar Justinianus I, yang membangun ulang Ayasofya antara 532–537 M. Dua arsitek jenius, Isidore dari Miletus dan Anthemius dari Tralles, diberi tugas nyaris mustahil: menciptakan ruang ibadah raksasa tanpa hutan tiang penyangga.
Hasilnya mencengangkan. Kubah berdiameter 31–32 meter dan setinggi 55 meter seolah menggantung di udara. Saat cahaya menembus jendela-jendela di bawah kubah, ruangan terasa melayang. Konon, orang-orang Bizantium menyebutnya seperti “digantung rantai emas dari surga”.
Selama lebih dari 900 tahun, Ayasofya menjadi katedral utama Konstantinopel—pusat spiritual Kekaisaran Bizantium. Meski berulang kali rusak akibat gempa, termasuk pada 558 M, 986 M, dan 1346 M, bangunan ini selalu diperbaiki, bahkan kubahnya dinaikkan sekitar enam meter demi kestabilan.
Revolusi Kubah yang Mengubah Sejarah Arsitektur
Rahasia keajaiban itu terletak pada teknik pendentif, segitiga lengkung yang mengubah denah persegi menjadi lingkaran kubah. Sistem ini mendistribusikan beban ke empat pilar utama sehingga ruang dalam tetap lapang. Inovasi ini bukan sekadar solusi teknis, melainkan revolusi arsitektur.
Model Ayasofya kelak menginspirasi masjid-masjid Ottoman seperti Süleymaniye, Şehzade, hingga Masjid Biru karya Mimar Sinan. Pengaruhnya bahkan menjalar ke Barat—terlihat pada kubah St. Peter’s Basilica di Roma sampai Capitol Dome di Washington D.C.
Tahun 1453: Ketika Sejarah Berbelok Arah
Tanggal 29 Mei 1453 menjadi titik balik besar. Sultan Mehmed II Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel. Kota itu berubah nama menjadi Istanbul, dan Ayasofya pun beralih fungsi menjadi masjid imperial pertama Kesultanan Ottoman.
Transformasinya dilakukan tanpa meruntuhkan struktur utama. Mihrab diarahkan ke Makkah, mimbar didirikan, dan empat menara menjulang di setiap sudut. Mozaik Kristen ditutup perlahan, digantikan kaligrafi Arab raksasa. Tambahan lain bermunculan: perpustakaan, madrasah, tempat wudhu, hingga dapur umum.
Shalat Jumat pertama dipimpin Syekh Aksemseddin, menandai babak baru kota yang disebut “Islam Bol” atau kota Islam.
Kini, ketika pengunjung berdiri di dalamnya, dua dunia terasa bertemu: mozaik Bunda Maria di atas, kaligrafi Allah dan Muhammad di bawah. Seperti dialog penuh makna antarperadaban.
Dari Masjid ke Museum: Era Sekularisme
Memasuki abad ke-20, Turki berubah drastis. Setelah runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah pada 1922, Mustafa Kemal Atatürk membawa agenda sekularisme.
Ayasofya ditutup untuk umum pada 1931, lalu melalui dekrit kabinet 24 November 1934, statusnya diubah menjadi museum. Pembukaan resmi terjadi 1 Februari 1935.
Mozaik Kristen kembali dibuka. Dunia pun berbondong-bondong datang. Sebagai museum, ia menarik jutaan orang, bahkan mencapai 3,3 juta pengunjung pada 2014.
Erdogan Kembalikan Fungsi Menjadi Masjid
Pada 10 Juli 2020, Mahkamah Agung Turki membatalkan keputusan 1934, menyatakan Ayasofya secara hukum adalah wakaf Sultan Mehmed II. Presiden Recep Tayyip Erdoğan langsung mengeluarkan dekrit pengalihan ke Direktorat Urusan Agama (Diyanet).
Ayasofya kembali menjadi masjid. Shalat Jumat perdana digelar 24 Juli 2020. Namun, ia tetap terbuka untuk wisatawan di luar waktu ibadah, menjaga perannya sebagai warisan dunia UNESCO.
Kini, suara azan bergema setiap kali waktu sholat tiba berpadu dengan langkah turis dari berbagai negara. Sakral dan publik berdampingan.
Setiap hari, shalat lima waktu dilaksanakan. Area galeri atas dibuka untuk wisatawan, yang dapat melihat mozaik Bizantium, kaligrafi Ottoman, mihrab, mimbar, hingga Terleme Sütunu “pilar berkeringat”.
Aturan tetap dijaga: lepas sepatu, berpakaian sopan, dan menghormati waktu shalat. Di sinilah Ayasofya terasa paling hidup, bukan museum beku, tetapi ruang ibadah yang bernapas.
Menyusuri Ayasofya bersama Adinda Azzahra
Bagi Adinda Azzahra Tour & Travel, Ayasofya bukan checklist destinasi, melainkan ruang edukasi sejarah Islam dunia.
Priyadi menjelaskan perbedaan gaya Bizantium dan Ottoman, mengaitkan masa lalu dengan identitas muslim hari ini. Perjalanan pun terasa lebih bermakna, bukan sekadar wisata, tetapi perjalanan batin.
Banyak peserta mengaku, momen paling haru adalah ketika sujud di tempat yang pernah menjadi katedral selama sembilan abad. Ada rasa kecil, sekaligus takjub.
Ayasofya mengajarkan satu hal sederhana: peradaban datang dan pergi, tetapi karya besar akan terus berbicara.
Ia pernah menjadi gereja, masjid, museum, lalu masjid lagi. Namun di balik perubahan itu, esensinya tetap sama, tempat manusia mencari Tuhan.
Dan mungkin, itulah sebabnya Ayasofya tak pernah sepi. Selalu ada yang datang. Untuk berdoa. Untuk belajar. Untuk mengagumi.[]
