Berita

Chairman IITCF, Priyadi: Pandemi Ini Peluang Meningkatkan Pariwisata Heritage

PA | JAKARTA. Sekolah Pascasarjana Universitas Padjadjaran sukses menggelar webinar yang bertema ‘Culture heritage and its challenge in digital tourism era’ pada Rabu, 3 September 2020 pukul 14.00 dengan Keynote Sepakers Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia Wishnuutama Kusubandio.

Sedangkan narsumber lain adalah Kilala Tilaar, MBA CEO Martha Tilaar Group,  Priyadi Abadi Chairman Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF), Dra Mudiyati Rahmatunnisa, Ph.D Plt. Dekan Sekolah Pascasarjan, dan Prof. Dr. Hendarmawan, MSc Wakil Rektor 3 Universitas Padjadjaran. Acara akan dmoderatori oleh Reza Permadi, ST CEO Atourin.

Dalam paparannya, Menpar Wishnuutama menjelaskan bahwa budaya ini jatidiri bangsa kita dan harus dilestarikan untuk generasi berikutnya. “Saya melihat ada keunikan yang penting untuk pariwisata di negeri ini. Kita bisa menawarkan yang unik penuh spirit kepada turis,” jelasnya.

Budaya itu merupakan kekuatan pariwisata kita sebagai bangsa Indonesia. “Jangan kita bersaing dengan Dubai atau Singapura dengan membuat seperti mereka, bukan itu. Kekuatan pariwisata kita adalah budaya kita,” tuturnya.

Namun demikian, tambah Wishnuutama, budaya kita harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Potensi apa yang kita lihat sehingga herritage kita itu bisa dinikmati oleh milenial, karena itu harus terus berinovasi dan berkreasi.

“Era digital sekarang sangat penting agar budaya kita bisa dinikmati dalam platform digital, tanpa mengurangi makna dan arti budaya lokal,” tegasnya.

Sementara itu H. Priyadi Abadi, MPar Chairman Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) menjelaskan wisata mancanegara banyak mengeksplore nilai-nilai budaya sebagai destinasi wisata. Yang teranyar adalah Turki dengan menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid menjadi daya tarik wisatawan mancanegara.

“Itu menjadi daya tarik bagi inboundnya Turki untuk menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Turki. Meskipun era pandemi belum berakhir,” jelasnya.

Sementara di Indonesia banyak peninggalan bersejarah, seperti jejak walisongo, masjid-masjid yang belum menjadi tujuan wisata. Begitu juga perayaan tradisi belum bisa menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. “Market kita masih didominasi oleh domestik,” paparnya.

Masa pandemi ini harus menjadi momen untuk bisa lebih meningkatkan pariwisata heritage yang jumlahnya sangat banyak di negeri ini. “Ini menjadi satu PR kita semua para pelaku travel muslim yang selama ini kurang mengangkat tur domestik yang sebenarnya potensi besar yang bisa kita jual untuk inbound kita,” tegasnya.

Era digital memudahkan kita untuk bisa mengeksplorasi potensi budaya sebagai destinasi wisata negeri ini. Apalagi dalam laporan GMTI 2019, Indonesia mendapat peringkat pertama bersanding dengan Malaysia dalam soal destinasi wisata halal.

“Hal ini seharusnya menjadi motivasi kita untuk lebih meningkatkan lagi wisata heritage di setiap daerah yang memiliki ciri khasnya sendiri,” paparnya.

Priyadi menambahkan, jadi wisatawan asing yang datang ke Indonesia tidak hanya melihat Bali tapi lebih dari itu bisa menikmati potensi wisata lokal yang ada di daerah-daerah. “Saya yakin ke depan setelah berakhir pandemi tourism akan kembali menggeliat dan tentunya kita berharap bisa kembali normal,” tuturnya. [admin]

Published: 03/09/20

Chairman Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF)

Direktur Utama Adinda Azzahra Grup

Founder & CEO Muslim Holiday Konsorsium

Ketua Umum ATLMI (Asosiasi Tour Leader Muslim Indonesia)

PA TV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *